suarabanten.com - Portal Berita Merakyat|Friday, August 18, 2017
Suara Banten Home » Nasional » Sentilan Puisi Untuk Prabowo dari Wiji Tukul

Sentilan Puisi Untuk Prabowo dari Wiji Tukul 

Prabowo Subianto

Prabowo Subianto

JAKARTA, suarabanten.COM- Serangan puisi kubu Prabowo Subianto terhadap Joko Widodo membuat loyalis calon presiden dari PDI Perjuangan itu bereaksi. Serangan balik tentunya dilancarkan lewat puisi pula.

Adalah Fahmi Habcyi yang menulis puisi untuk membela Jokowi. Kali ini Fahmi menciptakan puisi tentang Wiji Thukul, penyair kiri asal Solo yang menghilang bak ditelan bumi sejak 1998. Pria bernama asli Wiji Widodo ini diduga menjadi korban penculikan dan pembunuhan yang dilakukan militer kala itu.

“Sajak ini hanya mewakili suara hati Siti Dyah atau Mbak Sipon, istri Wiji Thukul, yang sangat menderita dan berharap suaminya kembali,” katanya kepada Tempo, Sabtu, 19 April 2014.

Fahmi sebelumnya menciptakan puisi politik berjudul “Pemimpin Tanpa Kuda”, “Rempong”, dan “Aku Iso Opo”. Ketiganya merupakan balasan atas puisi bikinan Fadli Zon, loyalis Prabowo, yang terakhir meluncurkan puisi “Raisopopo”. (Baca: Prabowo Puji-puji Partai Islam)

Menurut salah satu pendiri kelompok Kader dan Simpatisan PDI Perjuangan Pro-Jokowi (Projo) ini, sejarah tak akan lupa bahwa “biji” perlawanan yang ditanam oleh Wiji Thukul akan membuahkan hasil. Hasilnya berupa kebebasan dan demokrasi yang sekarang dinikmati para elite dan pemimpin politik. “Jangan sampai sejarah kelam itu terulang lagi,” ucap Fahmi, yang juga aktivis 1998 dari Universitas Indonesia ini. (Baca: Joko Widodo Resmikan Rumah Jokowi)

Berikut ini adalah puisi “Kembalikan Mas Wiji” ciptaan Fahmi Habcyi:

KEMBALIKAN MAS WIJI….

Kau rebutnya dari pangkuanku
Di tengah semangatnya yang menghunjam bumi
Kau buang dirinya dari ibu pertiwi
Di tengah kata-katanya membuatmu bergetar

Kau pikir dia menghilang
Di tengah malam bergerak
Susuri jiwa-jiwa muda yang berteriak melawan
Tak akan bisa suara dibungkam
Walau jasadnya kau benam

Kau pikir dia telah tiada
Di tengah siang membara
Tak akan bisa kata ditindas
Walau satria berkuda mengempas

Kau butakan mata kanannya
Kau patahkan tulang-tulangnya
Batinnya tak pernah tidur
Rangkanya tak pernah rapuh

Kau salah, kau pikir :
Dia tak pernah dipecat oleh sejarah
Juga tak pernah lari dari negeri
Kau tahu arti wiji?
Buahnya pun kalian nikmati
Walau ditabur digurun yang mati

Kembalikan Mas Widji!
Atau kau pun tak berhak kembali

Bubar jalan !!!

Ragunan, 19 April 2014

(jaka/tempo)

Add a Comment